Latest Posts

Minggu, 24 November 2013

Untuk memudahkan pemahaman tentang perjalanan haji, saya membuat diagram dan alur perjalanan haji yang dapat didowload di sini. semoga bermanfaat

Diagram Haji

Untuk memudahkan pemahaman tentang perjalanan haji, saya membuat diagram dan alur perjalanan haji yang dapat didowload di sini. semoga bermanfaat

0 komentar:

Jumat, 22 November 2013

Wahai, Syibli, apakah engkau telah mencapai Mina, melempar Jumrah, mencukur rambut, menyembelih qurban, bershalat di Masjid Khaif, kemudian kembali ke Makkah dan mengerjakan Thawaf Ifadhah ?
Syibli : Ya, benar.
Ali : Ketika sampai di Mina dan melempar Jumrah, adakah engkau berketetapan hati bahwa engkau kini telah sampai ke tujuan dan bahwa Tuhanmu telah memenuhi segala hajatmu ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan pada saat melempar Jumrah, adakah engkau meniatkan dalam hati bahwa dengan itu engkau telah mencukur dari dirimu segala kenistaan dan bahwa engkau telah keluar dari segala dosa seperti ketika baru lahir dari perut ibumu ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika shalat di Masjid Khaif, adakah engkau berniat untuk tidak memiliki perasaan khauf (takut), kecuali kepada Allah serta dosa-dosamu sendiri ? Dan bahwa engkau tiada mengharapkan sesuatu, kecuali rahmat-Nya ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan pada saat memotong hewan qurban adakah engkau berniat memotong urat ketamakan dan kerakusan dan berpegang pada sifat wara' yang sesungguhnya? Dan bahwa engkau mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s. yang rela memotong leher putera kesayangannya, buah hati dan penyegar jiwanya, agar menjadi teladan bagi manusia sesudahnya; semata-mata demi mengikuti perintah Allah ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan ketika kembali ke Makkah dan mengerjakan Thawaf  Ifadlah, adakah engkau meniatkan berifadlah dari pusat rahmat Allah, kembali kepada kepatuhan terhadap-Nya, berpegang teguh pada kecintaan kepada-Nya, menunaikan segala perintah-Nya, serta bertaqarrub selalu kepada-Nya ?
Syibli : Tidak
Ali : Kalau begitu, engkau tidak mencapai Mina, tidak melempar Jumrah, tidak mencukur rambut, tidak menyembelih qurban, tidak mengerjakan manasik, tidak bershalat di Masjid Khaif, tidak berthawaful Ifadlah, dan tidak pula mendekat kepada Tuhan-mu!

Kembalilah, kembalilah! Sebab, engkau sesungguhnya belum menunaikan hajimu!
Mendengar itu Syibli menangis tersedu-sedu; meratapi dan menyesali segala sesuatu yang telah dilakukannya dalam masa hajinya. Dan semenjak itu ia giat memperdalam ilmunya, sehingga pada tahun berikutnya ia kembali mengerjakan haji dengan ma'rifat (ilmu yang lebih sempurna) serta keyakinan penuh.

Haji adalah perjalanan Ma'rifat (Dialog Imam Zainal Abidin as. Dengan Syibli) VI - TAMAT

Wahai, Syibli, apakah engkau telah mencapai Mina, melempar Jumrah, mencukur rambut, menyembelih qurban, bershalat di Masjid Khaif, kemudian kembali ke Makkah dan mengerjakan Thawaf Ifadhah ?
Syibli : Ya, benar.
Ali : Ketika sampai di Mina dan melempar Jumrah, adakah engkau berketetapan hati bahwa engkau kini telah sampai ke tujuan dan bahwa Tuhanmu telah memenuhi segala hajatmu ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan pada saat melempar Jumrah, adakah engkau meniatkan dalam hati bahwa dengan itu engkau telah mencukur dari dirimu segala kenistaan dan bahwa engkau telah keluar dari segala dosa seperti ketika baru lahir dari perut ibumu ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika shalat di Masjid Khaif, adakah engkau berniat untuk tidak memiliki perasaan khauf (takut), kecuali kepada Allah serta dosa-dosamu sendiri ? Dan bahwa engkau tiada mengharapkan sesuatu, kecuali rahmat-Nya ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan pada saat memotong hewan qurban adakah engkau berniat memotong urat ketamakan dan kerakusan dan berpegang pada sifat wara' yang sesungguhnya? Dan bahwa engkau mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s. yang rela memotong leher putera kesayangannya, buah hati dan penyegar jiwanya, agar menjadi teladan bagi manusia sesudahnya; semata-mata demi mengikuti perintah Allah ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan ketika kembali ke Makkah dan mengerjakan Thawaf  Ifadlah, adakah engkau meniatkan berifadlah dari pusat rahmat Allah, kembali kepada kepatuhan terhadap-Nya, berpegang teguh pada kecintaan kepada-Nya, menunaikan segala perintah-Nya, serta bertaqarrub selalu kepada-Nya ?
Syibli : Tidak
Ali : Kalau begitu, engkau tidak mencapai Mina, tidak melempar Jumrah, tidak mencukur rambut, tidak menyembelih qurban, tidak mengerjakan manasik, tidak bershalat di Masjid Khaif, tidak berthawaful Ifadlah, dan tidak pula mendekat kepada Tuhan-mu!

Kembalilah, kembalilah! Sebab, engkau sesungguhnya belum menunaikan hajimu!
Mendengar itu Syibli menangis tersedu-sedu; meratapi dan menyesali segala sesuatu yang telah dilakukannya dalam masa hajinya. Dan semenjak itu ia giat memperdalam ilmunya, sehingga pada tahun berikutnya ia kembali mengerjakan haji dengan ma'rifat (ilmu yang lebih sempurna) serta keyakinan penuh.

0 komentar:

Apakah engkau telah melewati kedua bukit Al 'Alamain, mengerjakan shalat dua rakaat sebelumnya, dan setelah itu meneruskan perjalanan ke Muzdalifah untuk memungut batu-batu di sana, kemudian melewati Masy'arul Haram ?
Syibli : Ya.
Ali : Dan ketika shalat dua rakaat, adakah engkau meniatkannya sebagai shalat syukur, pada malam menjelang tanggal sepuluh Dzulhijjah, dengan mengharapkan tersingkirnya segala kesulitan serta datangnya segala kemudahan ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan ketika lewat di antara kedua bukit itu dengan sikap lurus tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri, adakah engkau saat itu meneguhkan niat untuk tidak bergeser dari Islam, agama yang haq, baik ke arah kanan ataupun kiri. Tidak dengan hatimu, tidak pula dengan lidahmu, ataupun dengan semua gerak-gerik anggota tubuhmu yang lain ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika menuju Muzdalifah untuk memungut batu-batu disana, adakah engkau berniat membuang jauh-jauh dari dirimu segala macam maksiat dan kejahilan terhadap Allah dan sekaligus menguatkan hatimu untuk tetap mengejar ilmu dan amal yang diridlai-Nya ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan ketika melewati Al Masy'arul Haram, adakah engkau mengisyaratkan kepada dirimu sendiri, agar ber-syi'ar seperti orang-orang yang penuh takwa dan takut kepada Allah Azza wa Jalla ?
Syibli : Tidak
Ali : Kalau begitu, engkau tidak melewati Al 'Alamain, tidak shalat dua rakaat, tidak berjalan ke Muzdalifah, tidak memungut batu-batu di sana, dan tidak pula lewat di Masy'arul Haram.

Haji adalah perjalanan Ma'rifat (Dialog Imam Zainal Abidin as. Dengan Syibli) V

Apakah engkau telah melewati kedua bukit Al 'Alamain, mengerjakan shalat dua rakaat sebelumnya, dan setelah itu meneruskan perjalanan ke Muzdalifah untuk memungut batu-batu di sana, kemudian melewati Masy'arul Haram ?
Syibli : Ya.
Ali : Dan ketika shalat dua rakaat, adakah engkau meniatkannya sebagai shalat syukur, pada malam menjelang tanggal sepuluh Dzulhijjah, dengan mengharapkan tersingkirnya segala kesulitan serta datangnya segala kemudahan ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan ketika lewat di antara kedua bukit itu dengan sikap lurus tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri, adakah engkau saat itu meneguhkan niat untuk tidak bergeser dari Islam, agama yang haq, baik ke arah kanan ataupun kiri. Tidak dengan hatimu, tidak pula dengan lidahmu, ataupun dengan semua gerak-gerik anggota tubuhmu yang lain ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika menuju Muzdalifah untuk memungut batu-batu disana, adakah engkau berniat membuang jauh-jauh dari dirimu segala macam maksiat dan kejahilan terhadap Allah dan sekaligus menguatkan hatimu untuk tetap mengejar ilmu dan amal yang diridlai-Nya ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan ketika melewati Al Masy'arul Haram, adakah engkau mengisyaratkan kepada dirimu sendiri, agar ber-syi'ar seperti orang-orang yang penuh takwa dan takut kepada Allah Azza wa Jalla ?
Syibli : Tidak
Ali : Kalau begitu, engkau tidak melewati Al 'Alamain, tidak shalat dua rakaat, tidak berjalan ke Muzdalifah, tidak memungut batu-batu di sana, dan tidak pula lewat di Masy'arul Haram.

0 komentar:

Engkau telah pergi ke Mina ?
Syibli : Ya.
Ali : Ketika itu, adakah engkau menguatkan niat akan berusaha sungguh-sungguh agar semua orang selalu merasa aman dari gangguan lidah, hati serta tanganmu sendiri ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau belum pergi ke Mina!

Dan adakah engkau telah wuquf di Arafah, mendaki Jabal Rahmah, mengunjungi Wadi Namirah, serta menghadapkan doa-doa kepada Allah di bukit-bukit As Shakharaat ?
Syibli : Ya, benar.
Ali : Ketika berdiri wuquf di Arafah, adakah engkau dalam kesempatan itu benar-benar menghayati ma'rifat akan kebesaran Allah serta mendalami pengetahuan tentang hakikat ilmu yang akan mengantarkanmu kepada-Nya ? Dan apakah ketika itu menyadari benar-benar betapa Allah yang Maha Mengetahui meliputi segala perbuatan, perasaan, serta kata-kata hati sanubarimu ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika mendaki Jabal Rahmah, adakah engkau sepenuh nya mendambakan rahmat Allah bagi setiap orang mukmin, serta mengharapkan bimbingan-Nya atas setiap orang Muslim ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan ketika berada di Wadi Namirah, adakah engkau berketetapan hati untuk tidak meng-amar-kan sesuatu yang ma'ruf, sebelum meng-amar-kannya pada dirimu sendiri ? Dan tidak melarang seseorang melakukan sesuatu sebelum engkau melarang diri sendiri ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan ketika berdiri di bukit-bukit di sana, adakah engkau menyadarkan diri bahwa tempat itu menjadi saksi atas segala kepatuhan kepada Allah dan mencatatnya bersama-sama para malaikat pencatat, atas perintah Allah, Tuhan sekalian langit ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak  wuquf di Arafah, tidak mendaki Jabal Rahmah, tidak mengenal Wadi Namirah, dan tidak pula berdoa di tempat-tempat itu ! 

Haji adalah perjalanan Ma'rifat (Dialog Imam Zainal Abidin as. Dengan Syibli) IV

Engkau telah pergi ke Mina ?
Syibli : Ya.
Ali : Ketika itu, adakah engkau menguatkan niat akan berusaha sungguh-sungguh agar semua orang selalu merasa aman dari gangguan lidah, hati serta tanganmu sendiri ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau belum pergi ke Mina!

Dan adakah engkau telah wuquf di Arafah, mendaki Jabal Rahmah, mengunjungi Wadi Namirah, serta menghadapkan doa-doa kepada Allah di bukit-bukit As Shakharaat ?
Syibli : Ya, benar.
Ali : Ketika berdiri wuquf di Arafah, adakah engkau dalam kesempatan itu benar-benar menghayati ma'rifat akan kebesaran Allah serta mendalami pengetahuan tentang hakikat ilmu yang akan mengantarkanmu kepada-Nya ? Dan apakah ketika itu menyadari benar-benar betapa Allah yang Maha Mengetahui meliputi segala perbuatan, perasaan, serta kata-kata hati sanubarimu ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika mendaki Jabal Rahmah, adakah engkau sepenuh nya mendambakan rahmat Allah bagi setiap orang mukmin, serta mengharapkan bimbingan-Nya atas setiap orang Muslim ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan ketika berada di Wadi Namirah, adakah engkau berketetapan hati untuk tidak meng-amar-kan sesuatu yang ma'ruf, sebelum meng-amar-kannya pada dirimu sendiri ? Dan tidak melarang seseorang melakukan sesuatu sebelum engkau melarang diri sendiri ?
Syibli : Tidak
Ali : Dan ketika berdiri di bukit-bukit di sana, adakah engkau menyadarkan diri bahwa tempat itu menjadi saksi atas segala kepatuhan kepada Allah dan mencatatnya bersama-sama para malaikat pencatat, atas perintah Allah, Tuhan sekalian langit ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak  wuquf di Arafah, tidak mendaki Jabal Rahmah, tidak mengenal Wadi Namirah, dan tidak pula berdoa di tempat-tempat itu ! 

0 komentar:

Ali : Ketika berdiri di Maqam Ibrahim, adakah engkau mengukuhkan niat untuk tetap berdiri di atas jalan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan jauh-jauh segala maksiat?
Syibli : Tidak
Ali : Dan ketika shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim, adakah engkau berniat mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s. dalam shalat beliau, serta menentang segala bisikan syetan ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu engkau tidak berjabatan tangan dengan Hajar Aswad, tidak berdiri di Maqam Ibrahim, dan tidak pula shalat dua rakaat di dalamnya.

Apakah engkau telah mendatangi dan memandangi sumur Zamzam dan minum airnya ?
Syibli : Ya.
Ali : Apakah engkau pada saat memandangnya berniat menujukan pandanganmu kepada semua bentuk kepatuhan kepada Allah, serta memejamkan mata dari setiap maksiat kepada-Nya ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu engkau tidak memandangnya dan tidak pula minum airnya!.

Apakah engkau telah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah, serta berjalan pulang-pergi antara kedua bukit itu ?
Syibli : Ya, benar.
Ali : Dan pada saat-saat itu, adakah engkau menempatkan dirimu di antara harapan akan rahmat Allah dan ketakutan menghadapi azab-Nya ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak mengerjakan sa'i dan tidak berjalan pulang-pergi antara keduanya! 

Haji adalah perjalanan Ma'rifat (Dialog Imam Zainal Abidin as. Dengan Syibli) III

Ali : Ketika berdiri di Maqam Ibrahim, adakah engkau mengukuhkan niat untuk tetap berdiri di atas jalan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan jauh-jauh segala maksiat?
Syibli : Tidak
Ali : Dan ketika shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim, adakah engkau berniat mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s. dalam shalat beliau, serta menentang segala bisikan syetan ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu engkau tidak berjabatan tangan dengan Hajar Aswad, tidak berdiri di Maqam Ibrahim, dan tidak pula shalat dua rakaat di dalamnya.

Apakah engkau telah mendatangi dan memandangi sumur Zamzam dan minum airnya ?
Syibli : Ya.
Ali : Apakah engkau pada saat memandangnya berniat menujukan pandanganmu kepada semua bentuk kepatuhan kepada Allah, serta memejamkan mata dari setiap maksiat kepada-Nya ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu engkau tidak memandangnya dan tidak pula minum airnya!.

Apakah engkau telah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah, serta berjalan pulang-pergi antara kedua bukit itu ?
Syibli : Ya, benar.
Ali : Dan pada saat-saat itu, adakah engkau menempatkan dirimu di antara harapan akan rahmat Allah dan ketakutan menghadapi azab-Nya ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak mengerjakan sa'i dan tidak berjalan pulang-pergi antara keduanya! 

0 komentar:

Kuburan Baqi adalah pekuburan lama yang sudah ada bahkan sebelum Rasulullah ke Medinah. Di pekuburan itu dikuburkan istri-istri, anak dan sahabat Rasulullah saw. Pada masa Turki Utsmani, tiap kuburan mempunyai tanda dan petunjuknya. Terlebih kuburan keluarga Nabi. Namun ketika dinasti Saud dengan paham wahabinya berkuasa, kuburan-kuburan itu dihancurkan. Dengan demikian petunjuk tentang itu lama-kelamaan semakin kabur. Penguasa pun sepertinya enggan menjelaskan siapa saja yang dikuburkan di Baqi. Terlebih lagi enggan untuk menjelaskan kuburan-kuburan yang secara fisik berbeda dengan kuburan sahabat lainnya.
Saat dibawa ziarah ke Baqi’, H. Bambang selalu tak bisa menahan keingintahuannya. Setiap berhenti di satu kuburan dia selalu bertanya ke penjaganya siapa yang dikubur di tempat itu. Maklum kuburan para sahabat di Baqi’ memang tak menyediakan informasi secuilpun mengenai siapa saja yang dikubur di situ.
Penjaga kuburan biasanya juga hanya menjawab ketus “wallahu a’lam”
Setelah selesai keliling Baqi’ H. Bambang mendekati saya sambil bertanya, “Ustad, emang ada berapa banyak sih sahabat yang bernama wallahu a’lam itu?” Saya ngakak ndak kuat mendengar pertanyaannya.

Ada Berapa Sahabat Bernama Wallahu a'lam?

Kuburan Baqi adalah pekuburan lama yang sudah ada bahkan sebelum Rasulullah ke Medinah. Di pekuburan itu dikuburkan istri-istri, anak dan sahabat Rasulullah saw. Pada masa Turki Utsmani, tiap kuburan mempunyai tanda dan petunjuknya. Terlebih kuburan keluarga Nabi. Namun ketika dinasti Saud dengan paham wahabinya berkuasa, kuburan-kuburan itu dihancurkan. Dengan demikian petunjuk tentang itu lama-kelamaan semakin kabur. Penguasa pun sepertinya enggan menjelaskan siapa saja yang dikuburkan di Baqi. Terlebih lagi enggan untuk menjelaskan kuburan-kuburan yang secara fisik berbeda dengan kuburan sahabat lainnya.
Saat dibawa ziarah ke Baqi’, H. Bambang selalu tak bisa menahan keingintahuannya. Setiap berhenti di satu kuburan dia selalu bertanya ke penjaganya siapa yang dikubur di tempat itu. Maklum kuburan para sahabat di Baqi’ memang tak menyediakan informasi secuilpun mengenai siapa saja yang dikubur di situ.
Penjaga kuburan biasanya juga hanya menjawab ketus “wallahu a’lam”
Setelah selesai keliling Baqi’ H. Bambang mendekati saya sambil bertanya, “Ustad, emang ada berapa banyak sih sahabat yang bernama wallahu a’lam itu?” Saya ngakak ndak kuat mendengar pertanyaannya.

0 komentar:

Kamis, 21 November 2013



Doa Imam Ja'far Shadiq agar dapat melaksanakan ibadah haji tiap tahun. Doa yang bisa dibaca setelah selesai shalat wajib

Doa agar bisa beribadah haji



Doa Imam Ja'far Shadiq agar dapat melaksanakan ibadah haji tiap tahun. Doa yang bisa dibaca setelah selesai shalat wajib

0 komentar:

NO.  BARANG BAWAAN DI TAS KOPER                    

  1. Baju Muslimah/ Baju Takwa
  2. Celana Panjang (sirwal)
  3. Celana Pendek *
  4. Celana Dalam (CD)/ Kaos Dalam/ Singlet
  5. T-Shirt/ Kaos/ Daster
  6. Sandal Jepit                                                    
  7. Piring, Gelas,
  8. Kain Ihram
  9. Baju Ihram untuk Ibu-ibu (utamakan warna gelap) 
  10. Sabuk Hijau/ ihram
  11. Hanger/ Jepit Pakaian/ Peniti, Karet Gelang, Tas Kresek     
  12. Sarung/ Mukenah
  13. Tali Plastik/Tampar (bikin jemuran) 
  14. Paku Beton (bikin bikin centelan di kamar)
  15. Gunting Kecil & Alat Potong kuku, Alat cukur kumis   
  16. Bahan Makanan Kering: Sambal Goreng Tempe, Bumbu Pecel, Dendeng, Abon, saos Sambel, saos omat, Kecap, Bubuk Kopi/Instan, Mei Instan, Susu, Teh, Gula, Adem Sari, Jahe Merah,  Nutrisari dll           
  17. Obat-obatan sesuai keluhan                    
  18. Lampu Senter
  19. Payung lipat kecil
  20. Perlak atau alas plastik untuk wukuf  
  21. Sajadah  *
  22. Pisau Dapur 
  23. Selotip Besar/ Lakban 
  24. Deterjen, Sabun Cuci Piring + busa   
  25. Tissu, Kain Serbet       
  26. Sambungan Kabel, Rol Film + Battery, Spidol Besar   
  27. Jarum Benang, Benang    
  28. Palu untuk satu rombongan        
  29. Termos air panas kecil untuk di mudzdalifah
  30. Kombinasi colokan listri untuk 1 kamar 1


No.      BARANG BAWAAN DI TAS TENTENGAN        

1.      Seragam Haji Nasional                     
2.      T-Shirt/ Daster/ Baju tidur *                 
3.      Sarung/ Mukenah                 
4.      Sajadah Tipis *                  
5.      Pakaian Dalam  *                  
6.      Peralatan Mandi: sabun, sikat gigi, pasta gigi, handuk kecil   
7.      Buku Manasik dan doa sesuai dengan tuntunan Rasulullah
8.      Obat-obatan Penting *              
9.      Kamera Tustel/ digital + Battery              
10.    Sandal Jepit *                        
11.    Kain Ihram + sabuk/Baju Ihram untuk jamaah Gelombang II 

NO.  BARANG BAWAAN DI TAS PASPOR            

1.      Foto Copy BPIH & Kartu Keluarga               
2.      Buku Doa Manasik          
3.      Bila menyimpan uang                  
4.      Pas Foto ukuran 3X4               
5.      Ballpoin, Notes untuk catatan, serta nomor telepon penting

Catatan:
1. Untuk Jamaah Haji Perempuan Barang Bawaan bisa menyesuaikan dengan daftar barang bawan tersebut diatas.
2. Tanda *, bila diperlukan saja atau sebagai pelengkap bila tempat masih memungkinkan.

Daftar Barang yang Perlu Dibawa

NO.  BARANG BAWAAN DI TAS KOPER                    

  1. Baju Muslimah/ Baju Takwa
  2. Celana Panjang (sirwal)
  3. Celana Pendek *
  4. Celana Dalam (CD)/ Kaos Dalam/ Singlet
  5. T-Shirt/ Kaos/ Daster
  6. Sandal Jepit                                                    
  7. Piring, Gelas,
  8. Kain Ihram
  9. Baju Ihram untuk Ibu-ibu (utamakan warna gelap) 
  10. Sabuk Hijau/ ihram
  11. Hanger/ Jepit Pakaian/ Peniti, Karet Gelang, Tas Kresek     
  12. Sarung/ Mukenah
  13. Tali Plastik/Tampar (bikin jemuran) 
  14. Paku Beton (bikin bikin centelan di kamar)
  15. Gunting Kecil & Alat Potong kuku, Alat cukur kumis   
  16. Bahan Makanan Kering: Sambal Goreng Tempe, Bumbu Pecel, Dendeng, Abon, saos Sambel, saos omat, Kecap, Bubuk Kopi/Instan, Mei Instan, Susu, Teh, Gula, Adem Sari, Jahe Merah,  Nutrisari dll           
  17. Obat-obatan sesuai keluhan                    
  18. Lampu Senter
  19. Payung lipat kecil
  20. Perlak atau alas plastik untuk wukuf  
  21. Sajadah  *
  22. Pisau Dapur 
  23. Selotip Besar/ Lakban 
  24. Deterjen, Sabun Cuci Piring + busa   
  25. Tissu, Kain Serbet       
  26. Sambungan Kabel, Rol Film + Battery, Spidol Besar   
  27. Jarum Benang, Benang    
  28. Palu untuk satu rombongan        
  29. Termos air panas kecil untuk di mudzdalifah
  30. Kombinasi colokan listri untuk 1 kamar 1


No.      BARANG BAWAAN DI TAS TENTENGAN        

1.      Seragam Haji Nasional                     
2.      T-Shirt/ Daster/ Baju tidur *                 
3.      Sarung/ Mukenah                 
4.      Sajadah Tipis *                  
5.      Pakaian Dalam  *                  
6.      Peralatan Mandi: sabun, sikat gigi, pasta gigi, handuk kecil   
7.      Buku Manasik dan doa sesuai dengan tuntunan Rasulullah
8.      Obat-obatan Penting *              
9.      Kamera Tustel/ digital + Battery              
10.    Sandal Jepit *                        
11.    Kain Ihram + sabuk/Baju Ihram untuk jamaah Gelombang II 

NO.  BARANG BAWAAN DI TAS PASPOR            

1.      Foto Copy BPIH & Kartu Keluarga               
2.      Buku Doa Manasik          
3.      Bila menyimpan uang                  
4.      Pas Foto ukuran 3X4               
5.      Ballpoin, Notes untuk catatan, serta nomor telepon penting

Catatan:
1. Untuk Jamaah Haji Perempuan Barang Bawaan bisa menyesuaikan dengan daftar barang bawan tersebut diatas.
2. Tanda *, bila diperlukan saja atau sebagai pelengkap bila tempat masih memungkinkan.

0 komentar:

Seperti biasa, beberapa hari sebelum pulang, kepala rombongan dan regu harus memeriksa passport dan kelengkapan administrasi jamaah. Hal itu diperlukan untuk kelancaran perjalanan. Sebab ada kalanya passport terselip entah di mana. Bahkan di kloter lain terjadi passport sepasang suami istri terpisah maktab.

Pemeriksaan dilaksanakan di kantor maktab yang jaraknya tak begitu jauh. Ketika pemeriksaan sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba ketua kloter bertanya "Kalau kertas bahasa arabnya apa ya?" memang tak semua petugas bisa berbahasa arab. Setengah sadar saya teriak saja "QIRDUN kang". Tanpa banyak tanya lagi ketua kloter pergi saja, sementara kami yang sedang memeriksa tertawa cekikikan.

Tak lama kemudian ketua kloter balik lagi sambil agak marah, "Siapa yang bilang kertas itu qirdun? di sini mah ndak ada qirdun. Kata orang Arab qirdun mah ada di kebon binatang". Tak ada yang mengacungkan tangan. Gantinya adalah gelak tawa mengisi ruang pemeriksaan itu. Terang saja qirdun itu artinya monyet sementara kertas bahasa arabnya adalah qirtos. Aya-aya wae pak ketu teh.

Ada QIRDUN?

Seperti biasa, beberapa hari sebelum pulang, kepala rombongan dan regu harus memeriksa passport dan kelengkapan administrasi jamaah. Hal itu diperlukan untuk kelancaran perjalanan. Sebab ada kalanya passport terselip entah di mana. Bahkan di kloter lain terjadi passport sepasang suami istri terpisah maktab.

Pemeriksaan dilaksanakan di kantor maktab yang jaraknya tak begitu jauh. Ketika pemeriksaan sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba ketua kloter bertanya "Kalau kertas bahasa arabnya apa ya?" memang tak semua petugas bisa berbahasa arab. Setengah sadar saya teriak saja "QIRDUN kang". Tanpa banyak tanya lagi ketua kloter pergi saja, sementara kami yang sedang memeriksa tertawa cekikikan.

Tak lama kemudian ketua kloter balik lagi sambil agak marah, "Siapa yang bilang kertas itu qirdun? di sini mah ndak ada qirdun. Kata orang Arab qirdun mah ada di kebon binatang". Tak ada yang mengacungkan tangan. Gantinya adalah gelak tawa mengisi ruang pemeriksaan itu. Terang saja qirdun itu artinya monyet sementara kertas bahasa arabnya adalah qirtos. Aya-aya wae pak ketu teh.

0 komentar:

Ini cerita tentang haji di tahun 2006. ini adalah perjalanan haji saya yang ke 3. haji pertama saya lakukan ketika studi di Iran, haji kedua tahun 2004 dan haji ke tiga tahun 2006. banyak orang menyarankan kalau haji itu cukup satu kali saja. namun kerinduan akan baitulllah dan Rasulullah selalu menyedot hati para alumni haji. bahkan bagi sebagian orang, kerinduan orang yang sudah melaksanakan haji dua kali lebih besar dibandingkan yang akan berangkat. awalnya sih tidak begitu percaya tapi seperti itulah adanya.

pada tahun 2006 ini saya mendampingi Bapak KH. Muchtar Adam yang membawa jemaah sebanyak 53 orang. Jumlah yang sangat banyak bagi saya. terlebih jika melihat karakter masing-masing yang unik dan satu sama lain berbeda. perbedaan karakter inilah yang biasanya menyebabkan pertengkaran para jemaah haji. oleh karena itu setiap jemaah sudah diingatkan sejak di Indonesia untuk saling lapang hati terhadap saudaranya.Nah, diantara jemaah tersebutlah seorang ustad yang ahli dalam bidang seni baca Al Qur'an dan Qiraah Sab'ah. keberadaan beliau sangat membantu program Babussalam dalam membina para haji untuk membaca Al Qur'an. setiap hari beliau mengadakan program tadarusan bagi jemaah yang hendak melancarkan bacaan Al Qur'annya. ternyata yang ikut program itu bukan hanya dari rombongan Babussalam. dari rombongan lainpun banyak yang mengikuti. sehingga beliau ini termasuk jemaah yang cukup dikenal jemaah lain.

Sebagai ustad beliau juga dipercaya oleh jemaah dalam urusan tawar menawar. Perlu diketahui bahwa jemaah indonesia termasuk jemaah yang royal dalam berbelanja tapi juga sering dicap pelit oleh pedagang di Saudi. Dulu tidak ada istilah tawar menawar dalam jual beli di saudi. jika mereka sudah mengatakan satu harga, maka tidak ada lagi jalan untuk  menawar. tapi rupanya pembeli dari indonesia dengan gaya tawar menawarnya yang dahsyat memberikan warna baru di Pasar Seng atau tempat-tempat belanja lainnya. saat ini kegiatan tawar menawar sudah merupakan hal yang lumrah di sana.

kebiasaan orang saudi jika harga sudah betul-betul mentok akan mengatakan akhir kalam (harga akhir). jika pedagang sudah mengatakan seperti itu sebaiknya tidak usah menawar lagi. jika anda berkenan silahkan ambil jika tidak jangan menawar lagi. lebih baik tinggalkan saja.Dalam kegiatan tawar menawar inilah kepercayaan diberikan kepada ustad tersebut. Khalas, Akhirul Kalam khamsah riyal atau asyrah riyal demikian dia berucap setiap kali menawar. kata-kata itu diucapkan setiap disuruh menawar. karena seringya dia mengatakan hal itu sampai sampai teman-temannya menggelarinya dengan Haji Akhirul Kalam.

Haji Akhirul Kalam

Ini cerita tentang haji di tahun 2006. ini adalah perjalanan haji saya yang ke 3. haji pertama saya lakukan ketika studi di Iran, haji kedua tahun 2004 dan haji ke tiga tahun 2006. banyak orang menyarankan kalau haji itu cukup satu kali saja. namun kerinduan akan baitulllah dan Rasulullah selalu menyedot hati para alumni haji. bahkan bagi sebagian orang, kerinduan orang yang sudah melaksanakan haji dua kali lebih besar dibandingkan yang akan berangkat. awalnya sih tidak begitu percaya tapi seperti itulah adanya.

pada tahun 2006 ini saya mendampingi Bapak KH. Muchtar Adam yang membawa jemaah sebanyak 53 orang. Jumlah yang sangat banyak bagi saya. terlebih jika melihat karakter masing-masing yang unik dan satu sama lain berbeda. perbedaan karakter inilah yang biasanya menyebabkan pertengkaran para jemaah haji. oleh karena itu setiap jemaah sudah diingatkan sejak di Indonesia untuk saling lapang hati terhadap saudaranya.Nah, diantara jemaah tersebutlah seorang ustad yang ahli dalam bidang seni baca Al Qur'an dan Qiraah Sab'ah. keberadaan beliau sangat membantu program Babussalam dalam membina para haji untuk membaca Al Qur'an. setiap hari beliau mengadakan program tadarusan bagi jemaah yang hendak melancarkan bacaan Al Qur'annya. ternyata yang ikut program itu bukan hanya dari rombongan Babussalam. dari rombongan lainpun banyak yang mengikuti. sehingga beliau ini termasuk jemaah yang cukup dikenal jemaah lain.

Sebagai ustad beliau juga dipercaya oleh jemaah dalam urusan tawar menawar. Perlu diketahui bahwa jemaah indonesia termasuk jemaah yang royal dalam berbelanja tapi juga sering dicap pelit oleh pedagang di Saudi. Dulu tidak ada istilah tawar menawar dalam jual beli di saudi. jika mereka sudah mengatakan satu harga, maka tidak ada lagi jalan untuk  menawar. tapi rupanya pembeli dari indonesia dengan gaya tawar menawarnya yang dahsyat memberikan warna baru di Pasar Seng atau tempat-tempat belanja lainnya. saat ini kegiatan tawar menawar sudah merupakan hal yang lumrah di sana.

kebiasaan orang saudi jika harga sudah betul-betul mentok akan mengatakan akhir kalam (harga akhir). jika pedagang sudah mengatakan seperti itu sebaiknya tidak usah menawar lagi. jika anda berkenan silahkan ambil jika tidak jangan menawar lagi. lebih baik tinggalkan saja.Dalam kegiatan tawar menawar inilah kepercayaan diberikan kepada ustad tersebut. Khalas, Akhirul Kalam khamsah riyal atau asyrah riyal demikian dia berucap setiap kali menawar. kata-kata itu diucapkan setiap disuruh menawar. karena seringya dia mengatakan hal itu sampai sampai teman-temannya menggelarinya dengan Haji Akhirul Kalam.

0 komentar:

http://english1.cari.com.my
Ternyata membaca tasbih bisa membuat langsing. Caranya?
1. pegang tasbih dengan tangan kanan dan kiri di depan dada.
2. Baca tasbih dengan baik dan ikhlas. 
3. Lakukan sambil mengelilingi Mesjidil Haram sebanyak 10 keliling
4. lakukan sekali di waktu pagi dan sekali pada waktu sore.
Insyaallah setelah pulang haji badan akan lebih langsing. selamat mencoba.

Membaca Tasbih juga bisa membuat langsing

http://english1.cari.com.my
Ternyata membaca tasbih bisa membuat langsing. Caranya?
1. pegang tasbih dengan tangan kanan dan kiri di depan dada.
2. Baca tasbih dengan baik dan ikhlas. 
3. Lakukan sambil mengelilingi Mesjidil Haram sebanyak 10 keliling
4. lakukan sekali di waktu pagi dan sekali pada waktu sore.
Insyaallah setelah pulang haji badan akan lebih langsing. selamat mencoba.

0 komentar:

Bukankah engkau telah memasuki Miqat, lalu shalat ihram dua rakaat, dan setelah itu mulai menyerukan talbiah?
Syibli : Ya, benar.
Ali : Apakah ketika memasuki Miqat engkau meniatkannya sebagai ziarah menuju keridlaan Allah ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika shalat ihram dua rakaat, adakah engkau berniat mendekatkan diri, ber-taqarrub kepada Allah, dengan mengerjakan suatu amalan yang paling utama di antara segala macam amal, yaitu shalat, yang juga merupakan kebaikan yang utama di antara kebaikan-kebaikan yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya.
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak memasuki Miqat, tidak ber-talbiah, dan tidak shalat ihram dua rakaat!

Apakah engkau telah memasuki Masjidil Haram, memandang Ka'bah, serta shalat di sana ?
Syibli : Ya, benar.
Ali : Ketika memasuki Masjidil Haram, adakah engkau berniat mengharamkan atas dirimu segala macam pergunjingan terhadap diri kaum Muslimin ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika sampai di kota Makkah, adakah engkau mengukuhkan niat untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak memasuki Masjidil Haram, tidak memandang Ka'bah, dan tidak pula shalat di sana!

Apakah engkau telah thawaf mengelilingi Ka'bah Baitullah dan telah menyentuh rukun-rukunnya ?
Syibli : Ya.
Ali : Pada saat thawaf, adakah engkau berniat berjalan dan berlari menuju keridlaan Allah yang Maha Mengetahui segala yang ghaib dan tersembunyi ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak thawaf mengelilingi Baitullah dan tidak menyentuh rukun-rukunnya.

Dan apakah engkau telah berjabatan dengan Hajar Aswad dan berdiri (bershalat) di tempat Maqam Ibrahim ?
Syibli : Ya!

Mendengar jawaban itu, Ali Zainal Abidin tiba-tiba berteriak, menangis, dan meratap, dengan suara merawankan hati seperti hendak meninggalkan hidup ini, seraya berucap, “Oh…oh…..Barangsiapa berjabatan tangan dengan Hajar Aswad, maka seakan-akan ia berjabatan tangan dengan Allah SWT! Oleh karena itu, ingatlah baik-baik, wahai insan yang merana dan sengsara. Janganlah sekali-kali berbuat sesuatu yang menyebabkan engkau kehilangan kemuliaan yang telah kau capai, serta membatalkan kehormatan itu dengan pembangkanganmu terhadap Allah dan mengerjakan yang diharamkan-Nya, sebagaimana dilakukan oleh mereka yang bergelimang dalam dosa-dosa !”

Haji adalah perjalanan Ma'rifat (Dialog Imam Zainal Abidin as. Dengan Syibli) II

Bukankah engkau telah memasuki Miqat, lalu shalat ihram dua rakaat, dan setelah itu mulai menyerukan talbiah?
Syibli : Ya, benar.
Ali : Apakah ketika memasuki Miqat engkau meniatkannya sebagai ziarah menuju keridlaan Allah ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika shalat ihram dua rakaat, adakah engkau berniat mendekatkan diri, ber-taqarrub kepada Allah, dengan mengerjakan suatu amalan yang paling utama di antara segala macam amal, yaitu shalat, yang juga merupakan kebaikan yang utama di antara kebaikan-kebaikan yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya.
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak memasuki Miqat, tidak ber-talbiah, dan tidak shalat ihram dua rakaat!

Apakah engkau telah memasuki Masjidil Haram, memandang Ka'bah, serta shalat di sana ?
Syibli : Ya, benar.
Ali : Ketika memasuki Masjidil Haram, adakah engkau berniat mengharamkan atas dirimu segala macam pergunjingan terhadap diri kaum Muslimin ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika sampai di kota Makkah, adakah engkau mengukuhkan niat untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak memasuki Masjidil Haram, tidak memandang Ka'bah, dan tidak pula shalat di sana!

Apakah engkau telah thawaf mengelilingi Ka'bah Baitullah dan telah menyentuh rukun-rukunnya ?
Syibli : Ya.
Ali : Pada saat thawaf, adakah engkau berniat berjalan dan berlari menuju keridlaan Allah yang Maha Mengetahui segala yang ghaib dan tersembunyi ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak thawaf mengelilingi Baitullah dan tidak menyentuh rukun-rukunnya.

Dan apakah engkau telah berjabatan dengan Hajar Aswad dan berdiri (bershalat) di tempat Maqam Ibrahim ?
Syibli : Ya!

Mendengar jawaban itu, Ali Zainal Abidin tiba-tiba berteriak, menangis, dan meratap, dengan suara merawankan hati seperti hendak meninggalkan hidup ini, seraya berucap, “Oh…oh…..Barangsiapa berjabatan tangan dengan Hajar Aswad, maka seakan-akan ia berjabatan tangan dengan Allah SWT! Oleh karena itu, ingatlah baik-baik, wahai insan yang merana dan sengsara. Janganlah sekali-kali berbuat sesuatu yang menyebabkan engkau kehilangan kemuliaan yang telah kau capai, serta membatalkan kehormatan itu dengan pembangkanganmu terhadap Allah dan mengerjakan yang diharamkan-Nya, sebagaimana dilakukan oleh mereka yang bergelimang dalam dosa-dosa !”

0 komentar:

Seorang murid  Imam Ali Zainal Abidin as. bernama Asy Syibli setelah selesai melaksanakan ibadah haji, pergi menemui gurunya untuk menyampaikan apa-apa yang dialaminya selama berhaji. Terjadilah percakapan di antara keduanya. Imam Ali Zainal Abidin (Ali) : Wahai Syibli, bukankah engkau telah selesai mengerjakan ibadah haji ?
Asy Syibli (Syibli) : Benar, wahai Guru.
Ali : Apakah engkau telah berhenti di Miqat, lalu menanggalkan semua pakaian yang terjahit, yang terlarang bagi orang yang sedang mengerjakan haji, dan kemudian mandi ?
Syibli : Ya, benar!
Ali : Adakah engkau ketika berhenti di Miqat juga meneguhkan niat untuk menanggalkan semua pakaian maksiat dan sebagai gantinya mengenakan pakaian taat ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan pada saat menanggalkan semua pakaian yang terlarang itu, adakah engkau menanggalkan semua sifat riya', nifaq, serta segala yang diliputi syubhat ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika mandi serta membersihkan diri sebelum memulai ihram, adakah engkau berniat mandi dan membersihkan diri dari segala pelanggaran dan dosa-dosa ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak berhenti di Miqat, tidak menanggalkan pakaian yang terjahit, dan tidak pula mandi membersihkan diri!

Ketika mandi dan berihram serta mengucapkan niat untuk memasuki ibadah haji, adakah engkau menetapkan niat untuk membersihkan diri dengan cahaya taubat yang tulus kepada Allah SWT ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan pada saat niat ber-ihram, adakah engkau berniat mengharamkan atas dirimu segala yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika mulai mengikatkan diri dalam ibadah haji,adakah engkau pada waktu yang sama telah melepaskan juga ikatan selain bagi Allah ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak membersihkan diri, tidak ber-ihram, dan tidak pula mengikatkan diri dalam ibadah haji! 

Haji adalah perjalanan Ma'rifat (Dialog Imam Zainal Abidin as. Dengan Syibli) I

Seorang murid  Imam Ali Zainal Abidin as. bernama Asy Syibli setelah selesai melaksanakan ibadah haji, pergi menemui gurunya untuk menyampaikan apa-apa yang dialaminya selama berhaji. Terjadilah percakapan di antara keduanya. Imam Ali Zainal Abidin (Ali) : Wahai Syibli, bukankah engkau telah selesai mengerjakan ibadah haji ?
Asy Syibli (Syibli) : Benar, wahai Guru.
Ali : Apakah engkau telah berhenti di Miqat, lalu menanggalkan semua pakaian yang terjahit, yang terlarang bagi orang yang sedang mengerjakan haji, dan kemudian mandi ?
Syibli : Ya, benar!
Ali : Adakah engkau ketika berhenti di Miqat juga meneguhkan niat untuk menanggalkan semua pakaian maksiat dan sebagai gantinya mengenakan pakaian taat ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan pada saat menanggalkan semua pakaian yang terlarang itu, adakah engkau menanggalkan semua sifat riya', nifaq, serta segala yang diliputi syubhat ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika mandi serta membersihkan diri sebelum memulai ihram, adakah engkau berniat mandi dan membersihkan diri dari segala pelanggaran dan dosa-dosa ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak berhenti di Miqat, tidak menanggalkan pakaian yang terjahit, dan tidak pula mandi membersihkan diri!

Ketika mandi dan berihram serta mengucapkan niat untuk memasuki ibadah haji, adakah engkau menetapkan niat untuk membersihkan diri dengan cahaya taubat yang tulus kepada Allah SWT ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan pada saat niat ber-ihram, adakah engkau berniat mengharamkan atas dirimu segala yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla ?
Syibli : Tidak.
Ali : Dan ketika mulai mengikatkan diri dalam ibadah haji,adakah engkau pada waktu yang sama telah melepaskan juga ikatan selain bagi Allah ?
Syibli : Tidak.
Ali : Kalau begitu, engkau tidak membersihkan diri, tidak ber-ihram, dan tidak pula mengikatkan diri dalam ibadah haji! 

0 komentar:


  1. Latihan jalan kaki sebelum berangkat. Karena ibadah haji akan lebih banyak dilakukan dengan berjalan kaki.
  2. kurangi kegiatan yang tidak perlu.
  3. Istirahat dan tidur dengan cukup.
  4. Makan bergizi dan teratur.
  5. Banyak minur air Putih.
  6. Membawa obat-obatan yang biasa dipakai di tanah air.
Tips Hindari Batuk
  1. Bawa pakaian penghangat.
  2. Gunakan penghangat leher.
  3. bawa obat-obatan yang biasa dipakai di tanah air
  4. oleskan kayu putih atau balsam
  5. jangan minum air dingin 
  6. bawa jahe atau kencur
Tips Hindari Influenza
  1. Menjaga kebersihan diri dan makanan serta minuman.
  2. Cuci tangan.
  3. Istirahat yang cukup.
  4. Makan buah dan sayur.
  5. Pakailah masker agar tidak tertulas flu dari yang lain.
Tips Menahan Dingin
  1. Siapkan pakaian penghangat di tentengan
  2. Pakai serban
  3. pakai krim pelembab
  4. sering minum
  5. Minum madu
  6. Banyak Makan buah

Tips Bugar Saat Ibadah Haji dan Umroh


  1. Latihan jalan kaki sebelum berangkat. Karena ibadah haji akan lebih banyak dilakukan dengan berjalan kaki.
  2. kurangi kegiatan yang tidak perlu.
  3. Istirahat dan tidur dengan cukup.
  4. Makan bergizi dan teratur.
  5. Banyak minur air Putih.
  6. Membawa obat-obatan yang biasa dipakai di tanah air.
Tips Hindari Batuk
  1. Bawa pakaian penghangat.
  2. Gunakan penghangat leher.
  3. bawa obat-obatan yang biasa dipakai di tanah air
  4. oleskan kayu putih atau balsam
  5. jangan minum air dingin 
  6. bawa jahe atau kencur
Tips Hindari Influenza
  1. Menjaga kebersihan diri dan makanan serta minuman.
  2. Cuci tangan.
  3. Istirahat yang cukup.
  4. Makan buah dan sayur.
  5. Pakailah masker agar tidak tertulas flu dari yang lain.
Tips Menahan Dingin
  1. Siapkan pakaian penghangat di tentengan
  2. Pakai serban
  3. pakai krim pelembab
  4. sering minum
  5. Minum madu
  6. Banyak Makan buah

0 komentar:


  1. Bila ingin keluar pondokan pergilah secara rombonga. Selain aman, terjaga, juga dapat saling mengingatkan.
  2. Hafalkan jalan saat keluar pemondokan. Jika tidak hapal kemungkinan besar mudah tersesat. Jika tersesat carilah petugas yang ada (biasanya berseragam biru muda).
  3. Jangan mudah percaya pada orang yang baru dikenal. Kadang penipu atau penjahat yang beroperasi di Mesjidil Haram adalah orang Indonesia juga.
  4. Jangan menitip barang kepada orang yang baru dikenal.Titiplah pada rekan serombongan. Ini penting untuk mencegah penipuan.
  5. Di sekitar pelataran mesjid juga ada sektor khusu untuk menangani persoalan jamaah seperti tersesat di jalan.
  6. Miliki nomor telpon jemaah lain atau hotel tempat tinggal. sehingga ketika tersesat bisa dihubungi dan mudah mencari.

Tips Agar Aman Selama Menjalankan Ibadah Haji


  1. Bila ingin keluar pondokan pergilah secara rombonga. Selain aman, terjaga, juga dapat saling mengingatkan.
  2. Hafalkan jalan saat keluar pemondokan. Jika tidak hapal kemungkinan besar mudah tersesat. Jika tersesat carilah petugas yang ada (biasanya berseragam biru muda).
  3. Jangan mudah percaya pada orang yang baru dikenal. Kadang penipu atau penjahat yang beroperasi di Mesjidil Haram adalah orang Indonesia juga.
  4. Jangan menitip barang kepada orang yang baru dikenal.Titiplah pada rekan serombongan. Ini penting untuk mencegah penipuan.
  5. Di sekitar pelataran mesjid juga ada sektor khusu untuk menangani persoalan jamaah seperti tersesat di jalan.
  6. Miliki nomor telpon jemaah lain atau hotel tempat tinggal. sehingga ketika tersesat bisa dihubungi dan mudah mencari.

0 komentar:

Sabtu, 16 November 2013

  1. Persyaratan permohonan Paspor Biasa untuk pengajuan pertama kali terdiri atas:
    1. Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku;
    2. Kartu Keluarga (KK);
    3. Akte/Surat kelahiran atau surat nikah atau ijazah atau surat keterangan Kepala Kantor Kementerian Agama di provinsi/kabupaten/kota setempat dan Direktorat Pelayanan Haji Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah yang berisi identitas Jemaah haji; dan
    4. Surat rekomendasi Kepala Kantor kementerian Agama di Kabupaten/Kota setempat.

Pengurusan Paspor Jemaah Haji secara Online

  1. Persyaratan permohonan Paspor Biasa untuk pengajuan pertama kali terdiri atas:
    1. Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku;
    2. Kartu Keluarga (KK);
    3. Akte/Surat kelahiran atau surat nikah atau ijazah atau surat keterangan Kepala Kantor Kementerian Agama di provinsi/kabupaten/kota setempat dan Direktorat Pelayanan Haji Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah yang berisi identitas Jemaah haji; dan
    4. Surat rekomendasi Kepala Kantor kementerian Agama di Kabupaten/Kota setempat.

0 komentar:

Bagaimana mengurus jemaah haji yang meninggal saat di Mekah dan Madinah? Saya punya pengalaman mengurus jemaah yang meninggal pada tahun 2008. Semoga pengalaman ini bermanfaat.

Pengurusannya sebetulnya sangat simpel. Yang pertama harus dilakukan adalah lapor kepada ketua kloter. Ketua kloter akan mengecek jemaah ditemani oleh dokter, untuk memastikan dan mencatat sebab-sebab kematian jemaah.

Pengurusan Jenazah Jemaah Haji

Bagaimana mengurus jemaah haji yang meninggal saat di Mekah dan Madinah? Saya punya pengalaman mengurus jemaah yang meninggal pada tahun 2008. Semoga pengalaman ini bermanfaat.

Pengurusannya sebetulnya sangat simpel. Yang pertama harus dilakukan adalah lapor kepada ketua kloter. Ketua kloter akan mengecek jemaah ditemani oleh dokter, untuk memastikan dan mencatat sebab-sebab kematian jemaah.

0 komentar:

Link Me

Viva Log

Popular Posts

Diagram Haji tamattu'

Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Badge

Total Tayangan Halaman

back to top