Latest Posts
Tampilkan postingan dengan label hikayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikayat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2013

Kuburan Baqi adalah pekuburan lama yang sudah ada bahkan sebelum Rasulullah ke Medinah. Di pekuburan itu dikuburkan istri-istri, anak dan sahabat Rasulullah saw. Pada masa Turki Utsmani, tiap kuburan mempunyai tanda dan petunjuknya. Terlebih kuburan keluarga Nabi. Namun ketika dinasti Saud dengan paham wahabinya berkuasa, kuburan-kuburan itu dihancurkan. Dengan demikian petunjuk tentang itu lama-kelamaan semakin kabur. Penguasa pun sepertinya enggan menjelaskan siapa saja yang dikuburkan di Baqi. Terlebih lagi enggan untuk menjelaskan kuburan-kuburan yang secara fisik berbeda dengan kuburan sahabat lainnya.
Saat dibawa ziarah ke Baqi’, H. Bambang selalu tak bisa menahan keingintahuannya. Setiap berhenti di satu kuburan dia selalu bertanya ke penjaganya siapa yang dikubur di tempat itu. Maklum kuburan para sahabat di Baqi’ memang tak menyediakan informasi secuilpun mengenai siapa saja yang dikubur di situ.
Penjaga kuburan biasanya juga hanya menjawab ketus “wallahu a’lam”
Setelah selesai keliling Baqi’ H. Bambang mendekati saya sambil bertanya, “Ustad, emang ada berapa banyak sih sahabat yang bernama wallahu a’lam itu?” Saya ngakak ndak kuat mendengar pertanyaannya.

Ada Berapa Sahabat Bernama Wallahu a'lam?

Kuburan Baqi adalah pekuburan lama yang sudah ada bahkan sebelum Rasulullah ke Medinah. Di pekuburan itu dikuburkan istri-istri, anak dan sahabat Rasulullah saw. Pada masa Turki Utsmani, tiap kuburan mempunyai tanda dan petunjuknya. Terlebih kuburan keluarga Nabi. Namun ketika dinasti Saud dengan paham wahabinya berkuasa, kuburan-kuburan itu dihancurkan. Dengan demikian petunjuk tentang itu lama-kelamaan semakin kabur. Penguasa pun sepertinya enggan menjelaskan siapa saja yang dikuburkan di Baqi. Terlebih lagi enggan untuk menjelaskan kuburan-kuburan yang secara fisik berbeda dengan kuburan sahabat lainnya.
Saat dibawa ziarah ke Baqi’, H. Bambang selalu tak bisa menahan keingintahuannya. Setiap berhenti di satu kuburan dia selalu bertanya ke penjaganya siapa yang dikubur di tempat itu. Maklum kuburan para sahabat di Baqi’ memang tak menyediakan informasi secuilpun mengenai siapa saja yang dikubur di situ.
Penjaga kuburan biasanya juga hanya menjawab ketus “wallahu a’lam”
Setelah selesai keliling Baqi’ H. Bambang mendekati saya sambil bertanya, “Ustad, emang ada berapa banyak sih sahabat yang bernama wallahu a’lam itu?” Saya ngakak ndak kuat mendengar pertanyaannya.

Kamis, 21 November 2013

Seperti biasa, beberapa hari sebelum pulang, kepala rombongan dan regu harus memeriksa passport dan kelengkapan administrasi jamaah. Hal itu diperlukan untuk kelancaran perjalanan. Sebab ada kalanya passport terselip entah di mana. Bahkan di kloter lain terjadi passport sepasang suami istri terpisah maktab.

Pemeriksaan dilaksanakan di kantor maktab yang jaraknya tak begitu jauh. Ketika pemeriksaan sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba ketua kloter bertanya "Kalau kertas bahasa arabnya apa ya?" memang tak semua petugas bisa berbahasa arab. Setengah sadar saya teriak saja "QIRDUN kang". Tanpa banyak tanya lagi ketua kloter pergi saja, sementara kami yang sedang memeriksa tertawa cekikikan.

Tak lama kemudian ketua kloter balik lagi sambil agak marah, "Siapa yang bilang kertas itu qirdun? di sini mah ndak ada qirdun. Kata orang Arab qirdun mah ada di kebon binatang". Tak ada yang mengacungkan tangan. Gantinya adalah gelak tawa mengisi ruang pemeriksaan itu. Terang saja qirdun itu artinya monyet sementara kertas bahasa arabnya adalah qirtos. Aya-aya wae pak ketu teh.

Ada QIRDUN?

Seperti biasa, beberapa hari sebelum pulang, kepala rombongan dan regu harus memeriksa passport dan kelengkapan administrasi jamaah. Hal itu diperlukan untuk kelancaran perjalanan. Sebab ada kalanya passport terselip entah di mana. Bahkan di kloter lain terjadi passport sepasang suami istri terpisah maktab.

Pemeriksaan dilaksanakan di kantor maktab yang jaraknya tak begitu jauh. Ketika pemeriksaan sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba ketua kloter bertanya "Kalau kertas bahasa arabnya apa ya?" memang tak semua petugas bisa berbahasa arab. Setengah sadar saya teriak saja "QIRDUN kang". Tanpa banyak tanya lagi ketua kloter pergi saja, sementara kami yang sedang memeriksa tertawa cekikikan.

Tak lama kemudian ketua kloter balik lagi sambil agak marah, "Siapa yang bilang kertas itu qirdun? di sini mah ndak ada qirdun. Kata orang Arab qirdun mah ada di kebon binatang". Tak ada yang mengacungkan tangan. Gantinya adalah gelak tawa mengisi ruang pemeriksaan itu. Terang saja qirdun itu artinya monyet sementara kertas bahasa arabnya adalah qirtos. Aya-aya wae pak ketu teh.

Ini cerita tentang haji di tahun 2006. ini adalah perjalanan haji saya yang ke 3. haji pertama saya lakukan ketika studi di Iran, haji kedua tahun 2004 dan haji ke tiga tahun 2006. banyak orang menyarankan kalau haji itu cukup satu kali saja. namun kerinduan akan baitulllah dan Rasulullah selalu menyedot hati para alumni haji. bahkan bagi sebagian orang, kerinduan orang yang sudah melaksanakan haji dua kali lebih besar dibandingkan yang akan berangkat. awalnya sih tidak begitu percaya tapi seperti itulah adanya.

pada tahun 2006 ini saya mendampingi Bapak KH. Muchtar Adam yang membawa jemaah sebanyak 53 orang. Jumlah yang sangat banyak bagi saya. terlebih jika melihat karakter masing-masing yang unik dan satu sama lain berbeda. perbedaan karakter inilah yang biasanya menyebabkan pertengkaran para jemaah haji. oleh karena itu setiap jemaah sudah diingatkan sejak di Indonesia untuk saling lapang hati terhadap saudaranya.Nah, diantara jemaah tersebutlah seorang ustad yang ahli dalam bidang seni baca Al Qur'an dan Qiraah Sab'ah. keberadaan beliau sangat membantu program Babussalam dalam membina para haji untuk membaca Al Qur'an. setiap hari beliau mengadakan program tadarusan bagi jemaah yang hendak melancarkan bacaan Al Qur'annya. ternyata yang ikut program itu bukan hanya dari rombongan Babussalam. dari rombongan lainpun banyak yang mengikuti. sehingga beliau ini termasuk jemaah yang cukup dikenal jemaah lain.

Sebagai ustad beliau juga dipercaya oleh jemaah dalam urusan tawar menawar. Perlu diketahui bahwa jemaah indonesia termasuk jemaah yang royal dalam berbelanja tapi juga sering dicap pelit oleh pedagang di Saudi. Dulu tidak ada istilah tawar menawar dalam jual beli di saudi. jika mereka sudah mengatakan satu harga, maka tidak ada lagi jalan untuk  menawar. tapi rupanya pembeli dari indonesia dengan gaya tawar menawarnya yang dahsyat memberikan warna baru di Pasar Seng atau tempat-tempat belanja lainnya. saat ini kegiatan tawar menawar sudah merupakan hal yang lumrah di sana.

kebiasaan orang saudi jika harga sudah betul-betul mentok akan mengatakan akhir kalam (harga akhir). jika pedagang sudah mengatakan seperti itu sebaiknya tidak usah menawar lagi. jika anda berkenan silahkan ambil jika tidak jangan menawar lagi. lebih baik tinggalkan saja.Dalam kegiatan tawar menawar inilah kepercayaan diberikan kepada ustad tersebut. Khalas, Akhirul Kalam khamsah riyal atau asyrah riyal demikian dia berucap setiap kali menawar. kata-kata itu diucapkan setiap disuruh menawar. karena seringya dia mengatakan hal itu sampai sampai teman-temannya menggelarinya dengan Haji Akhirul Kalam.

Haji Akhirul Kalam

Ini cerita tentang haji di tahun 2006. ini adalah perjalanan haji saya yang ke 3. haji pertama saya lakukan ketika studi di Iran, haji kedua tahun 2004 dan haji ke tiga tahun 2006. banyak orang menyarankan kalau haji itu cukup satu kali saja. namun kerinduan akan baitulllah dan Rasulullah selalu menyedot hati para alumni haji. bahkan bagi sebagian orang, kerinduan orang yang sudah melaksanakan haji dua kali lebih besar dibandingkan yang akan berangkat. awalnya sih tidak begitu percaya tapi seperti itulah adanya.

pada tahun 2006 ini saya mendampingi Bapak KH. Muchtar Adam yang membawa jemaah sebanyak 53 orang. Jumlah yang sangat banyak bagi saya. terlebih jika melihat karakter masing-masing yang unik dan satu sama lain berbeda. perbedaan karakter inilah yang biasanya menyebabkan pertengkaran para jemaah haji. oleh karena itu setiap jemaah sudah diingatkan sejak di Indonesia untuk saling lapang hati terhadap saudaranya.Nah, diantara jemaah tersebutlah seorang ustad yang ahli dalam bidang seni baca Al Qur'an dan Qiraah Sab'ah. keberadaan beliau sangat membantu program Babussalam dalam membina para haji untuk membaca Al Qur'an. setiap hari beliau mengadakan program tadarusan bagi jemaah yang hendak melancarkan bacaan Al Qur'annya. ternyata yang ikut program itu bukan hanya dari rombongan Babussalam. dari rombongan lainpun banyak yang mengikuti. sehingga beliau ini termasuk jemaah yang cukup dikenal jemaah lain.

Sebagai ustad beliau juga dipercaya oleh jemaah dalam urusan tawar menawar. Perlu diketahui bahwa jemaah indonesia termasuk jemaah yang royal dalam berbelanja tapi juga sering dicap pelit oleh pedagang di Saudi. Dulu tidak ada istilah tawar menawar dalam jual beli di saudi. jika mereka sudah mengatakan satu harga, maka tidak ada lagi jalan untuk  menawar. tapi rupanya pembeli dari indonesia dengan gaya tawar menawarnya yang dahsyat memberikan warna baru di Pasar Seng atau tempat-tempat belanja lainnya. saat ini kegiatan tawar menawar sudah merupakan hal yang lumrah di sana.

kebiasaan orang saudi jika harga sudah betul-betul mentok akan mengatakan akhir kalam (harga akhir). jika pedagang sudah mengatakan seperti itu sebaiknya tidak usah menawar lagi. jika anda berkenan silahkan ambil jika tidak jangan menawar lagi. lebih baik tinggalkan saja.Dalam kegiatan tawar menawar inilah kepercayaan diberikan kepada ustad tersebut. Khalas, Akhirul Kalam khamsah riyal atau asyrah riyal demikian dia berucap setiap kali menawar. kata-kata itu diucapkan setiap disuruh menawar. karena seringya dia mengatakan hal itu sampai sampai teman-temannya menggelarinya dengan Haji Akhirul Kalam.

Link Me

Viva Log

Popular Posts

Doa Haji

Diagram Haji tamattu'

Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman

back to top